![]() |
| Momen penamatan kaji kaum adat Datuak magek putiah, Marwan Hakim dinagari aia gadang. (Dok. Foto: istimewa) |
PASAMAN POST.COM, PASAMAN BARAT - Suasana haru, bahagia, dan penuh kekeluargaan menyelimuti acara penamatan kaji (khatam kaji) Dedi Lismanto yang dibimbing langsung oleh Datuak Magek Putiah Marwan Hakim, seorang tokoh adat sekaligus guru mengaji di Kampuang Apa/Kampuang Bukik Duyan Timbago, Luhak Saparampek, Nagari Aia Gadang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat.
Acara penamatan kaji tersebut berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2026, bertepatan dengan hari pernikahan Dedi Lismanto. Momen istimewa ini disaksikan langsung oleh sanak saudara, kerabat, serta kaum besar Datuak Magek Putiah.
Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan penuh makna. Selain menjadi bentuk rasa syukur atas keberhasilan Dedi Lismanto dalam menamatkan kaji, acara ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan silaturahmi antara keluarga, kaum, dan masyarakat Nagari Aia Gadang.
Penamatan kaji tersebut turut dihadiri masyarakat Aia Gadang, keluarga besar Dedi Lismanto, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, perwakilan Bundo Kanduang, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.
Kehadiran para tokoh adat dan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Terlebih, penamatan kaji yang dilaksanakan bersamaan dengan pernikahan menjadi momen yang sarat nilai agama, adat, dan kebersamaan.
Datuak Magek Putiah Marwan Hakim menyampaikan bahwa sebagai seorang niniak mamak atau datuak, dirinya memiliki tanggung jawab moral untuk membimbing, membina, dan memberikan contoh yang baik kepada anak kemenakan serta generasi penerus.
Menurutnya, seorang datuak tidak hanya memiliki kedudukan dalam adat, tetapi juga harus mampu menjalankan peran sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan mengajarkan ilmu agama, membimbing anak kemenakan, serta menanamkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti.
Ia berharap Dedi Lismanto tidak hanya menjadikan penamatan kaji sebagai sebuah seremoni, tetapi juga mampu mengamalkan ilmu agama yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.
"Harapan saya, setelah menamatkan kaji, ilmu yang telah dipelajari hendaknya terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ilmu agama hanya berhenti pada saat penamatan saja, tetapi harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, membina rumah tangga, serta mendidik generasi penerus," demikian pesan yang ingin disampaikan dalam momentum tersebut.
Datuak Magek Putiah juga berharap agar generasi muda tetap menjadikan agama sebagai landasan kehidupan dan tidak melupakan adat serta budaya Minangkabau. Sebab, adat dan agama merupakan dua unsur penting yang harus berjalan beriringan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Momentum penamatan kaji Dedi Lismanto ini menjadi bukti bahwa peran niniak mamak, alim ulama, dan tokoh masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan agama serta tradisi adat di tengah masyarakat.
Acara yang berlangsung dengan penuh kemeriahan tersebut ditutup dalam suasana kekeluargaan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Momen ini diharapkan menjadi kenangan berharga bagi Dedi Lismanto beserta keluarga, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda Nagari Aia Gadang untuk terus belajar, memperdalam ilmu agama, dan menjaga nilai-nilai adat Minangkabau.
Penulis: Ilhamdi Ahmad

