Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sempat Diusir dan Difitnah di Kampung Halaman Mantan istri, Mantan Suami Tegas Tolak Kembali — Karma Menjawab Luka Diam"

Senin, 17 November 2025 | November 17, 2025 WIB Last Updated 2025-11-16T21:29:17Z
Dok. Pasaman post 
Media cetak dan digital 

Sempat Diusir dan Difitnah di Kampung Halaman si istrinya, Mantan Suami Tegas Tolak Kembali — Karma Menjawab Luka Diam"






Pasaman Barat – Pasaman post.com |
Kisah nyata yang menggugah hati kembali datang dari salah satu pelosok kampung di Pasaman Barat. Seorang pria asal Pariaman, yang selama ini hidup merantau di daerah ini, menjadi korban pengusiran, fitnah, dan penghinaan dari mantan istrinya sendiri.

Kini, saat karma mulai berbalik arah, sang mantan istri harus menelan pil pahit: ditinggal oleh selingkuhan yang dulu dibelanya, dan tidak lagi diterima oleh mantan suaminya.

Pengusiran dan fitnah yang diterima sang pria bukan perkara ringan. Ia diusir secara tidak hormat dari rumah tempat mereka tinggal bersama, tepat di kampung halaman sang mantan istri. Ironisnya, sang pria tidak hanya kehilangan rumah tangga, tetapi juga nama baik dan harga dirinya.

Mantan istri menyebar narasi bahwa dirinya tidak dinafkahi dan ditelantarkan, sebuah tuduhan yang sangat melukai harga diri seorang suami.

Apa yang lebih menyakitkan, sang suami tidak mendapat pembelaan dari siapapun. Sebagai perantau dari Pariaman, ia tidak memiliki keluarga atau dukungan sosial di kampung itu.

Orang-orang yang semula ia anggap teman pun menjauh, terpengaruh oleh gosip dan stigma "bukan orang asli sini." Bahkan, sebagian warga memandang rendah dirinya hanya karena ia bukan berasal dari Pasaman Barat.

Lingkungan yang seharusnya netral berubah menjadi ladang penghakiman sosial, Fitnah menjadi alat untuk menghapus jasa dan kebaikan yang telah ia berikan selama bertahun-tahun dalam membangun rumah tangga. Sementara sang mantan istri menikmati simpati dari tetangga dan jaringan sosialnya, sang suami hanya bisa diam dan berjuang sendirian — dengan martabat.

Kini, setelah selingkuhan yang dijadikan harapan hidup oleh sang mantan istri menghilang dan gagal menikahinya, penyesalan datang terlambat. Sang wanita mencoba kembali, namun ditolak secara tegas.

"Saya sudah memaafkan, tapi tidak akan mengulang luka yang sama. Saya dijatuhkan di tempat yang bahkan bukan tanah saya sendiri. Hari ini saya bangkit bukan untuk balas dendam, tapi untuk menunjukkan bahwa saya tetap punya harga diri," tegasnya.

Kisah ini menjadi pelajaran sosial bagi kita semua bahwa kebenaran tak selalu lantang. Terkadang, ia berjalan dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk membungkam fitnah dengan bukti nyata.

DPD LPPKI Pasaman Barat mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menilai berdasarkan gosip, serta mendukung korban fitnah dan ketidakadilan, tanpa memandang asal daerah atau status sosialnya.

"Keadilan sosial harus berlaku untuk semua, tak peduli siapa dan dari mana dia berasal," ujar salah satu tokoh pemerhati masyarakat.


Berita ini diterbitkan karna, sang mantan istri dan para oknum-oknum pendukungnya masih membicarakan fitnah tentang dirinya, baik dilapangan dan media sosial.

Sekaligus bentuk somasi, untuk kedepannya masih berkata tidak sesuai fakta, mantan suami akan menempuh jalur hukum kepada oknum-oknum yang menjelekkannya tanpa bukti dan demi kepentingan pribadi.

Sebagai bentuk edukasi, tim meminta ijin untuk rilis berita sebagai Pembelajaran bagi masyarakat dan para penggiat media sosial, tidak sembarang memfitnah tanpa klarifikasi.

Semoga kisah ini membuka mata kita semua — bahwa diam bukan berarti salah, dan kebaikan yang tulus akan selalu menemukan jalannya pulang.


Redaksi Pasaman post.
×
Berita Terbaru Update